Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
22 Mei 2013, 02:50:32 am

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Cari:     Pencarian lanjutan
Segera lengkapi Nama Tampilan Anda dengan identitas yang benar, bukan nama samaran.
* Home Bantuan Cari Masuk Registrasi
+  Forum Fakultas Psikologi UGM
|-+  Diskusi Psikologi
| |-+  Psikologi Perkembangan
| | |-+  Aktualisasi Diri Rogers dan Maslow
« sebelumnya berikutnya »
Halaman: [1] Cetak
Penulis Topik: Aktualisasi Diri Rogers dan Maslow  (Dibaca 24592 kali)
Oktavianus Ken M.
Moderator Global
Pendatang
*****

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 27


« pada: 20 Desember 2006, 08:52:50 am »

Dear All.

Rogers dalam Schultz (1991) menulis tentang aktualisasi diri sebagai berikut :

Kutip
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi �potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak � kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow (dalam Schultz, 1991), manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Kebutuhan ini tersusun dalam tingkatan-tingkatan dari yang terendah sampai tertinggi. Kebutuhan paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum muncul kebutuhan tingkat selanjutnya. Kebutuhan paling tinggi dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow adalah Aktualisasi Diri.

Jadi prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah: 1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis, 2. kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman 3. kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta 4. kebutuhan-kebutuhan penghargaan. Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.

Kebutuhan aktualisasi diri di atas nampaknya merupakan suatu kondisi puncak dari perkembangan individu. Pada awalnya maslow menyatakan bahwa orang-orang yang teraktualisasi diri hanya terdapat pada orang-orang berusia lanjut, cenderung dipandang sebagai suatu keadaan puncak atau keadaan akhir suatu tujuan jangka panjang, bukan sebagai suatu proses dinamis yang terus-menerus.

Namun Maslow juga menyatakan bahwa orang-orang muda tidak dapat mengaktualisasikan diri sepenuhnya, tetapi memiliki kemungkinan untuk memperlihatkan pertumbuhan baik ke arah aktualisasi diri.


Pertanyaan saya adalah sebagai berikut :

1. Apakah konsep aktualisasi diri Rogers dan Maslow ini sebenarnya sama, perbedaannya hanya pada Maslow menempatkan itu pada urutan teratas kebutuhan sedangkan Rogers memandang aktualisasi diri adalah suatu proses dalam perkembangan kehidupan seseorang berdasarkan usia? Perbedaan yang lainnya?

2.  Apakah ada literatur yang lebih lengkap yang membahas tentang perbedaan aktualisasi diri Rogers dan Maslow, karena kebanyakan saya mendapat materi dari internet dan itu cukup memusingkan juga. Saya sudah membaca di Psikologi Pertumbuhan (Schultz) dan beberapa buku tentang teori kepribadian. Namun masih belum jelas. Mohon pencerahannya ya  ;)



Tercatat
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« Jawab #1 pada: 20 Desember 2006, 09:43:13 am »

Kenz

Saya ikut urun rembug dari kacamata praktis, realistik.

Aktualisasi diri - apakah itu didekati dari teori Maslow, Rogers atau pakar lainnya, pada hakikatnya adalah sama. Yang berbeda adalah cara atau approach pendekatannya. Bagi saya, aktualisasi adalah "be myself" (menjadi dirinya sendiri). Bagaimana proses atau cara seseorang untuk bisa sampai pada "be myself" inilah yang menjadikan Maslow and Rogers berbeda.

Untuk bisa mengaktulisasikan dirinya, seseorang tidak harus terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang berada di tingkat di bawahnya (menurut Maslow). Karena sebenarnya teori Maslow bukanlah sesuatu yang linier, tetapi ada inter-relasi atau over-lappingnya. Artinya orang bisa saja "sampai" pada self-actualization tanpa harus fulfilled kebutuhan akan fisik dasar, rasa aman, etc. Yang diperlukan untuk bisa sampai pada aktualisasi diri adalah "keberanian" untuk keluar dari belenggu kebutuhan-kebutuhan yang ada di bawahnya.

Contoh dalam dunia politik adalah Mahatma Gandhi: beliau berani keluar dari belenggu kebutuhan fisik dasar (beliau bukan dari keluarga berada), rasa aman (beliau bisa saja tinggal tetap di London daripada pulang ke India), etc. namun tokh berani untuk mencari aktualisasi dirinya dengan rela bekerja from scratch demi bangsa dan negaranya.

Contoh lain dalam dunia bisnis adalah para wirausaha, entrepreneur yang berani untuk keluar dari segala jerat dan belenggu rasa (ingin dihormati, rasa aman, kebutuhan dasar) dan mencari sesuatu yang bisa atau lebih menjadikan dirinya berarti. Inilah hakekat dari aktualisasi diri.

Kalau Kenz baca buku atau cari dari sumber internet dan menjadi bingung, berbahagialah ! Karena "saya bingung, maka saya ada", demikian kita pernah diajarkan. Kebingungan bisa jadi adalah salah satu proses untuk mencapai aktualisasi diri ....

salam
Tercatat
Oktavianus Ken M.
Moderator Global
Pendatang
*****

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 27


« Jawab #2 pada: 22 Desember 2006, 09:55:13 am »

hehe.. terima kasih atas banyak pencerahannya Pak Esteje. (*maaf kalau salah, karena saya tidak melihat identitas nama lengkapnya

Kalau saya baca dari buku, mengapa ya para penulis ini jarang sekali membandingkan teori aktualisasi diri Golstein - Rogers - dan Maslow. Sumber dari internet yang saya baca malah banyak yang membandingkan, misalnya saja aktualisasi diri Maslow dipengaruhi oleh adanya teori Rogers, dan Rogers membuat teori aktualisasi karena terpengaruh dengan teori aktualisasi diri Goldstein. Apakah benar demikian? *maklum sumber di internet katanya kurang dipercaya kebenarannya

Saya sendiri berkesimpulan hampir sama dengan Pak Esteje, bahwa aktualisasi diri adalah proses seorang individu untuk menjadi dirinya sendiri. Hakekatnya memang sama tapi dijelaskan oleh ketiga tokoh psikologi secara berbeda baik cara pendekatannya maupun konsep perkembangannya.

Saya tertarik dengan apa yang pak Esteje tuliskan :
Untuk bisa mengaktulisasikan dirinya, seseorang tidak harus terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang berada di tingkat di bawahnya (menurut Maslow). Karena sebenarnya teori Maslow bukanlah sesuatu yang linier, tetapi ada inter-relasi atau over-lappingnya. Artinya orang bisa saja "sampai" pada self-actualization tanpa harus fulfilled kebutuhan akan fisik dasar, rasa aman, etc.

Ini ada referensinya tidak yang menyatakan teori Maslow adalah sebuah inter-relasi bukannya sebuah hirarki, atau berdasarkan penerapan praktis di lapangan.
Kalo ada referensinya boleh saya tahu dari mana? atau mungkin saya kelewatan membaca bagian ini, karena saya masih mempersepsikan dari hasil studi pustaka saya bahwa teori motivasi Maslow itu berbentuk hirarki piramida terbalik.

Terima Kasih.

Tercatat
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« Jawab #3 pada: 19 Januari 2007, 04:14:39 pm »

bro kenz,

- please pm me, so that I can send the related articles you required
- sorry for the late reply, my time is quite fluid recently
- just for curiousity: are doing any research in relation with motivation?

good luck ..... - stj
Tercatat
Teddi
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Tulisan: 17

« Jawab #4 pada: 30 Maret 2007, 09:17:10 am »

Ikutan ah...

Mempelajari sekian banyak teori psikologi waktu kuliah (meskipun pasti kalah banyak dibandingkan bapak/ibu dosen..he..he..) sebenarnya menarik membandingkan beberapa teori yang membahas tentang hal yang sama. Namun ternyata diskusi model begini belakangan kurang memberikan pencerahan bagi saya. Di situlah saya menemukan bahwa membandingkan hanyalah langkah pertama untuk memperoleh insight baru. Proses selanjutnya? Ya sintesis. Kalau rekan-rekan pernah membaca buku Organizational behaviornya Stephen Robbins edisi terbaru, ia mencontohkan integrasi teori2 motivasi yang ada dalam satu bagan yang mudah dimengerti. Hasilnya, lebih applicable dalam berbagai situasi.

So, Kenz...maukah kamu sharing hasil sintesismu tentang teori2 aktualisasi diri yang ada sampai sekarang? Sekiranya kamu menemukan 'bolong'-nya saya yakin kamu akan jadi salah satu dari para perumus teori baru.

Salam,

Teddi
Tercatat
Loki
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 5

« Jawab #5 pada: 11 Maret 2009, 11:38:48 pm »

Salam kenal....
Saya anggota baru...

topiknya cukup menarik....
saya cuma heran kenapa perbedaan teori ini dipermasalahkan...
Karena saya pikir sih, inti teori2 itu sama, hanya saja cara penalaran masing-masing ahli berbeda...
karena kita semua punya cara berpikir yang berbeda2...
mungkin cari saja teori yang menurut kita mudah dicerna lalu dihubungkan dengan teori-teori lain yang serupa, lau coba untuk memahami kenapa sang ahli membuat penjelasan teori yang berbeda...
Maaf, ini hanya saran...
Tercatat
kstoffa
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 18

« Jawab #6 pada: 24 Mei 2009, 01:26:33 pm »

semua tori hampir sama karena hasilnya pun tak jauh berbeda
yang menjadi msalah dimana orang lain bisa menerima teori tersebut.

salam kenal
Tercatat
toni gunawan
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 3

« Jawab #7 pada: 01 Oktober 2009, 06:09:53 pm »

salam kenal. sebenarnya berapa banyak orang sampai pada level aktualisasi diri? boleh saja orang memenuhi kebutuhan secara tidak linear , tapi lebih sehat bila linear. dan setiap level sebenarnya berkaitan satu level dengan level yang lainnya. Ambil contoh jika kebutuhan materi telah terpenuhi , itu akan memberikan rasa aman. rasa aman perlu untuk mengundang yang namanya cinta. setelah semua level terpenuhi  , KENALI diri sendiri , lakukan apa yang aku ingin lakukan didalam cinta, disitulah aktualisasi diri HADIR.
Tercatat
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« Jawab #8 pada: 02 Oktober 2009, 08:11:55 am »

mas Toni, tolong saya diberi pencerahan tentang statement anda " boleh saja orang memenuhi kebutuhan secara tidak linear , tapi lebih sehat bila linear". kalau ada materi bacaan atau hasil penetilian pendukungnya, akan sangat membantu. terima kasih
Tercatat
Halaman: [1] Cetak 
« sebelumnya berikutnya »
 

Powered by SMF 2.0.2 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
Dipersembahkan oleh Fakultas Psikologi UGM