Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
29 Agustus 2014, 12:13:38 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Cari:     Pencarian lanjutan
Akses forum ini melalui HP dengan alamat http://forum.psikologi.ugm.ac.id/m/
* Home Bantuan Cari Masuk Registrasi
+  Forum Fakultas Psikologi UGM
|-+  Diskusi Psikologi
| |-+  Psikologi Sosial
| | |-+  perilaku tertib berlalulintas
« sebelumnya berikutnya »
Halaman: [1] 2 3 4 Cetak
Penulis Topik: perilaku tertib berlalulintas  (Dibaca 20536 kali)
Khusni Mustaqim
Pendatang
*

Karma: +1/-1
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 32


« pada: 02 April 2009, 02:07:58 PM »

wehehehehe,, kan psikologi sosial kelassnya pak Ancok tadi disuruh cari solusi gimana supaya hewan-hewan itu bisa tertib berlalulintas,,
amri tuliskan ide-ide anda sekalian disini,,
bagi siapa saja (yang tidak ikut kelas psikososial-nya pak Ancok) yang punya ide juga silahkan berbagi di tread ini,, ;D
Tercatat
Khusni Mustaqim
Pendatang
*

Karma: +1/-1
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 32


« Jawab #1 pada: 02 April 2009, 02:15:31 PM »

pertamax di tread sendiri,,
mulai dari saya,,
kalo aku sih sebenernya bukan bagaimana mengubah perilakunya, tetapi aku punya konsep ide tentang bagaimana bikin kampanye tentang pentingnya tertib berlalu lintas,,
caranya adalah menyebrang jalan dengan sepeda yang diberi tulisan yang cukup besar berbunyi:
BISA LIAT GAG SIH WARNA LAMPUNYA??
terus nyebrangnya pas lampunya lagi berwarna hijau jadi bikin macet gitu,,

tujuan:
  • biar orang2 pada tau betapa gag enaknya haknya melewati jalan tersebut diganggu oleh orang yang tidak taat aturan (dalam hal ini orang yang bawa sepeda)
  • biar masyarakat memikirkan hal tersebut dan kalo memang tu orang masih waras mereka harusnya sadar

kekurangan:
  • membahayakan pelaku kampanye (kalo ditabrak gimana)
  • belum tentu mereka menangkap maksud dari kampanye tersebut

kalo ide saya baru itu,,
nanti jika ada ide lagi saya posting,,
mungkin yang lain ada ide lagi? :)
Tercatat
Zadok
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 6


Tiada hidup tanpa keterkejutan

« Jawab #2 pada: 05 April 2009, 09:31:27 PM »

Hmm..ide cukup gila, Qim. Gimana kalo kamu yang naik sepedanya? Hehe  :P...

Ngomong-ngomong tentang kampanye... begini, di Amerika ada kampanye anti mobil yang namanya The Carbusters. Mereka bikin zebra cross dari manusia, lalu baring di tengah jalan-jalan padat mobil.

Gimana kalo diaplikasikan di Indonesia? Ada orang berpakaian hitam dan orang berpakaian putih, lalu orang pembawa poster (tapi tulisannya belum dapet ide), dan orang yang pake kostum lampu lalu lintas. Begitu lampu merah, grup zebra cross tadi langsung cepet-cepet jalan terus baring di zebra crossnya.

Resikonya juga sama, membahayakan orang yang kampanye. Pertanyaannya juga sama... gimana kalo aku yang jadi zebra crossnya? Bisa jadi polisi tidur kita... :-\ Tapi orang-orang jadi lebih aware.

Aku dan teman-teman punya ide-ide lain lagi, tapi ada di kertas kelompokku. Semoga bisa cepat diposting ke sini  :D karena cukup keren-keren...
Tercatat
galih
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 2

« Jawab #3 pada: 06 April 2009, 10:46:24 PM »

hola hola...
galih disini kawan....
saya boleh ngikut diskusi disini yo...

oke,saya mulai
sebenernya yg paling penting itu bukan merubah mereka,yang paling penting adalah merubah kita,hahai
saya ngikut prinsipnya MLM...
kalo saya udah tertib lalu lintas,saya kasih contoh yg baek ke temen2,temen2 disekitar saya bakal ngikut tertib lalu lintas.
trus temen2 saya yg tertib lalu lintas,ngasih contoh ke temen deketnya masing2 masing.
coba kalo tiap orang berhasil mempengaruhi 3orang aja untuk tertib lalu lintas...3 orang itu masing2 mempengaruhi 3 orang lagi untuk tertib lalu lintas,trus berlanjut,nambah 3,nambah 3,nambah 3.....
berapa yang bisa diajak menaati lalu lintas...pasti dahsyat...

hahai,jawaban yg sok bijaksana yo....
Tercatat
Khusni Mustaqim
Pendatang
*

Karma: +1/-1
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 32


« Jawab #4 pada: 08 April 2009, 07:48:21 PM »

Gimana kalo diaplikasikan di Indonesia? Ada orang berpakaian hitam dan orang berpakaian putih, lalu orang pembawa poster (tapi tulisannya belum dapet ide), dan orang yang pake kostum lampu lalu lintas. Begitu lampu merah, grup zebra cross tadi langsung cepet-cepet jalan terus baring di zebra crossnya.

gag salah tu tiduran di aspal?? secara Indonesia kann daerah khatulistiwa panas banget,, :o
Hmm..ide cukup gila, Qim. Gimana kalo kamu yang naik sepedanya? Hehe  :P...

gimana kalo kamu yang tiduran di jalan dok? ;D
Tercatat
tya hafsha
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Wanita
Tulisan: 3

« Jawab #5 pada: 09 April 2009, 12:54:33 AM »

masalah tertib (dan sopan) berlalu lintas pernah saya bahas di blog saya. kalau2 mau mampir  ::)

http://tialtiul.com/?s=ketololan


kalau saya lebih ke Belief in a Just World ya, bahwa bad things happen to bad people, good things happen to good people.
selama saya melakukan yg terbaik yang saya bisa, saya percaya saja kalau orang lain akan berlaku sama thd kita. hehe
*jadi kayak hukum karma atau hukum balasan gitu ya? hihi*

tapi saya sudah membuktikannya.
entah bagaimana, ketika saya mencoba mengalah, mencoba memberi lampu sein, sering kali di jalan saya menemukan orang berlaku seperti itu juga di depan saya. padahal begitu banyak kan orang susah sekali mengalah bahkan sekedar memberi lampu sein?

ya kira2 begitu kawan2..

(soalnya kalo saya lanjutin nanti jadi kayak IPLF. hehehe.. :D )
Tercatat
Zadok
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 6


Tiada hidup tanpa keterkejutan

« Jawab #6 pada: 09 April 2009, 02:35:41 PM »

Kutip
gag salah tu tiduran di aspal?? secara Indonesia kann daerah khatulistiwa panas banget,, :o
Hehe... tepat sekali... kata Day, manggang orang...

Karena itu disimpulkan bahwa... ideku gagal  :'( haha...

Tya, kau mengingatkanku juga.. di blogku juga ada : http://zdkzdkzdk.blogspot.com/2008/08/budaya-kisruh-di-jalanan.html

Kutip
selama saya melakukan yg terbaik yang saya bisa, saya percaya saja kalau orang lain akan berlaku sama thd kita. hehe
*jadi kayak hukum karma atau hukum balasan gitu ya? hihi*
Kurasa ga akan semudah itu sih mengubah rakyat Indonesia yang jutaan ini... kecuali jika dicampur ke idenya Galih.. jadi kampanye personal gitu.. Contohnya, kebiasaan berkendara melawan arus, ada jutaan orang yang mereka lihat sebagai teladan dalam seumur hidup, tapi tetap saja mereka lawan tuh arus.

MLM, ya, Lih... bisa juga.. bisa, bisa...
Kutip
coba kalo tiap orang berhasil mempengaruhi 3orang aja untuk tertib lalu lintas...3 orang itu masing2 mempengaruhi 3 orang lagi untuk tertib lalu lintas,trus berlanjut,nambah 3,nambah 3,nambah 3.....
berapa yang bisa diajak menaati lalu lintas...pasti dahsyat...

Kemarin aku terpana di depan rel kereta api... pernah ga? Waktu pagernya turun, lalu ada suara wanita pidato tentang kecelakaan di rel kereta api sampai pagar di buka kembali.. Menurut kalian, efektifkah kalo diaplikasikan di lampu merah?
Orang yang kebetulan berhenti (misalnya karena terhalang mobil di depan, haha :P), bakal dengar tuh peringatan, kurasa itu cukup efektif untuk meningkatkan aplikasi moralnya ke tahap 3 (internalisasi). Tak ada kelemahan berarti.

Aku punya ide lain, pernah liat iklan Djarum di dekat Malioboro? Yang di LCD besar itu, lho... Nah, di jalan-jalan yang ramai dengan motor mahasiswa terutama, kita pasang LCD besar yang menayangkan klip mengenai kecelakaan lalu lintas dan betapa menyedihkan dampaknya pada keluarga yang ditinggalkan, lalu ditutup dengan pesan seruan untuk menghormati peraturan lalu lintas. Kurasa itu juga akan meningkatkan aplikasi moral ke tahap 3 (internalisasi). Kelemahannya, biaya dan ruang.

Ada temanku, aku lupa (semoga dia cepat posting ke sini) usul supaya di lampu merah tuh dipasang polisi tidur. Otomatis orang-orang akan melambat, dan ga akan tancap gas (terutama kalo lampu kuning). Kelemahannya, lalu lintas jadi makin macet karena kendaraan akan merayap di lampu merah. Ini hanya sampai tingkat 1 (punishment).
Tercatat
ancok
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Tulisan: 13

« Jawab #7 pada: 09 April 2009, 10:31:03 PM »

Saya sangat senang dengan inisiatif untuk memulai diskusi masalah lalu lintas yang dilakukan oleh mas Mustaqim yang kemudian banyak ditanggapi oleh kawan-kawan mahasiswa. Ini menunjukkan betapa kepedulian kita pada soal lalu lintas. Cara kita menggunakan jalan dalam berlalu lintas adalah cermin dari budaya bangsa. Kesantunan atau sebaliknya ketidaksantunan dalam berlalu lintas yang kita lakukan adalah potret dari keperibadian diri kita sendiri yang sekaligus menggambarkan budaya bangsa. Kalau buruk cara kita dalam berlalu-lintas maka buruklah kepribadian kita dan secara kolektif keburukan ini menggambarkan buruknya budaya bangsa.

Di negara yang menganut azas tertib berbangsa dan bernegara, cara berlalu-lintas yang baik dan benar diajarkan disekolah sejak dini. Pendidikan berlalu lintas adalah proses untuk melatih diri menghargai hak-hak orang lain, dan etika pergaulan yang baik. Kalau sejak kecil sudah tidak menghargai hak-hak orang lain, dan tidak berpegang pada etika dalam memperlakukan orang lain, maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang korup, yang mengambil hak-hak orang lain. Sebenarnya ini adalah metode 'learning by doing' dalam membangun karakter yang baik. Sekolah anti korupsi sebenarnya dapat dimulai dengan mengajar anak-anak berlalulintas dengan baik.

Kawan-kawan peserta Forum ini bisa memberikan saran dan metode bagaimana agar kita bisa  membangun sikap (attitude formation) supaya setiap warganegara Indonesia bisa mematuhi aturan bernegara dan berbangsa melalui kepatuhan berlalu lintas. Kalau kita tidak berhasil kita membentuk sikap berlalu lintas yang baik kita akan sama dengan hewan yang tidak bisa membedakan warna lampu lalu lintas, dan 'nyeruduk' ke jalan yang bukan hak kita. Mari kita manfaatkan teori psikologi yang sudah kita pelajari untuk membentuk sikap patuh pada aturan lalu lintas baik pada diri sendiri, maupun  pada orang lain.

Tentu saja diskusi di forum ini adalah tempat kita melatih diri untuk lebih bisa menulis dalam bahasa Indonesia yang baik. Bagi kita yang akan menulis karya ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi atau artikel jurnal, kebiasan berdikusi dalam forum ini akan menjadi tempat berlatih yang baik. Sangat sering saya jumpai mahasiswa mengalami kesulitan dalam menyampaikan gagasannya dalam bahasa Indonesia yang baik. Hal ini mungkin karena kebiasaan menggunakan bahasa 'gaul' atau bahasa SMS yang tidak mengikuti azas bahasa Indonesia yang baku. Padahal bangsa yang baik adalah bahasa yang bisa bertutur kata dengan baik. Maaf kalau terasa kurang pas tulisan ini.

Wass

Djamaludin Ancok
Tercatat
Khusni Mustaqim
Pendatang
*

Karma: +1/-1
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 32


« Jawab #8 pada: 11 April 2009, 10:39:47 AM »

jika mau ditelusuri (seperti kata pak Ancok) menurut saya adalah karena budaya dzalim (melakukan sesuatu tidak pada semestinya). Budaya ini juga yang nantinya menimbulkan budaya korupsi, menyontek, dan sebagainya. Menrut saya orang Indonesia terlalu terbiasa untuk megerjakan sesuatu seperlunya saja bukan seharusnya. Misalnya saja seperti yang ditulis dalam artikel blognya mbak Tya ketika pengendara motor berada di luar garis putih mereka merasa tidak masalah, "yang penting mobil tetap bisa lewat kok" tidak memikirkan apakah itu tepat (bertindak benar) atau tidak. Contoh lain adalah budaya meremehkan hal kecil misalnya buang sampah sembarangan mereka berpikir< "toh nanti juga ada petugas yang membersihkan" dan sebagainya.

Sebenarnya program-program pendidikan moral sejak kecil sudah mulai diberlakukan di tingkat playgroup, TK, dan SD (meskipun dalam tingkat playgroup dan TK seringkali yang terjadi adalah westernisasi). Akan tetapi tampaknya pada tingkat SMP dan seterusnya tampak terabaikan. Saya jadi teringat obrolan guru saya dengan guru lainnya yang mengatakan bahwa justru mayoritas anak SMA yang tergabung dalam geng remaja di Yogyakarta (CBZ, GNB, TNT, dsb) justru merupakan lulusan SD yang favorit di Yogyakarta (sebut saja SDM-S bukan nama sebenarnya: edited by admin) yang kemudian meneruskan SMPnya di salah satu SMP favorit di Yogyakarta (sebut saja SMP-X- bukan nama sebenarnya: edited by admin). Mereka berpendapat kemungkinan hal ini terjadi karena di SD mereka (SDM-S) mereka dididik moral secara cukup ketet (misal masuk kelas harus kaki kanan, salam, dsb) akan tetapi ketika mereka memasuki masa SMP itu semua justru terabaikan (katanya SMP-X memang cukup bebas). Mungkin ini bisa dijelaskan dengan teori extinction (kepunahan) ketika mereka di lingkungan SD tiap perlakuan moral mereka diberikan reinforcement dan punishment tetapi ketika berada di lingkungan SMP mereka tiak diberi perlakuan seperti hal tersebut sehingga kebiasaan baik mereka lama kelamaan akan punah.

Mungkin itu saja kayaknya agak OOT :)
Buat admin kalo merasa saya terlalu vulgar dengan menyebutkan beberapa nama institusi pendidikan langsung diedit saja saya ridho kok ;D

« Edit Terakhir: 11 April 2009, 07:48:19 PM oleh neila » Tercatat
firdaus
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 1

« Jawab #9 pada: 12 April 2009, 09:32:29 PM »

Dalam masalah saya tidak bermaksud untuk mencari kambing hitam ataupun kambing putih. Saya rasa ini dapat terjadi karena yang pertama dan yang paling utama, yaitu tidak tepatnya tata letak/tata kota di dalam perancangan bangunan sehingga juga mempegaruhi juga akses jalan yang kita sering lewati. Maklum waktu perencanaan apa-apakan dilakuka pada masa penjajahan Belanda. Dalam masa itu, jalan dimaksudkan untuk mempertegas/menguatkan posisi Belanda sebagai penjajah. Dan dalam jaman itu tidak berpikiran bahwa perkembangan sekarang sudah sangat pesat/maju. Sehingga kebanyakan traffic light di Indonesia jaraknya lumayan dekat. Sehingga ini sedikit mengganggu transportasi, dan menyebabkan truk-truk besar kesulitan di jalanan ini. Sehingga ini juga mengganggu proses distribusi, sekaligus sangat mengganggu perkembangan/kemajuan perekonomian Indonesia.
Yang kedua, sifat kaum orang Indonesia cenderung “sakpenake dhewe”. Dan sedikit yang benar-benar patuh terhadap peraturan. Orang Indonesia cenderung bermain kucing-kucingan dengan polisi. Karena pihak berwajib tersebut kuranglah disukai oleh masyarakat, karena mereka cenderung bertindak tanduk sombong & angkuh. Lihat saja di jalanan, bila mobil polisi sedang melaju di jalanan, mereka pasti berjalan di tengah-tengah jalan. Mereka seakan-akan tidak mau berada di belakang kendaraan rakyat sipil. Ataupun saat ada razia kendaraan, mereka cenderung mencari-cari kesalahan sang obyek dan siap untuk menerima uang sogokan. Orang-orang sering menyebutnya seperti saat memberi amplop kepada orang yang ada acara “kondangan”. Bagi para supir ini sudah menjadi rutinitas bulanan untuk melicinkan operasi pekerjaan. Ataupun pungutan-pungutan liar lain.

Solusi yang saya ingin sampaikan disini adalah karena untuk merubah blueprint tata kota di Indonesia sangatlah sulit karena bangunan ini paten dan membutuhkan dana yang sangat besar, dsb. Maka kita harus mulai dengan merubah mental para pelaju di jalanan, seperti proses pembuatan SIM lebih diperketat lagi. Sehingga yang namanya jalan pintas/jalan belakang tidak terjadi lagi. Sehingga yang namanya pemilik SIM benar-benar orang yang berkualitas yang tahu &  pahan akan peraturan-peraturan di jalanan. Hal-hal seperti yang kita lihat di tepi jalan seperti reklame tentang berapa korban kecelakaan, ternyata lumayan memberikan dampak positif. Orang yang membaca tulisan ini cenderung lebih baik dalam berkendara. Ini disebabkan ada model yang pasti telah banyak korban yang berguguran bila melakukan pelanggaran-pelanggaran. Dan pembersihan aparat-aparat dari unsur-unsur pungli maupun suap yang memakan uang rakyat. Dengan mengaktifkan pusat pengaduan masyarakat yang dilakukan oleh pihak independent. Memang dari pihak kepolisian sudah memiliki pusat pengaduan masyarakat ini, namun cenderung tidak efektif dan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pasti tiap ada informasi jarang ditanggapi serius. Seperti saat saya mencoba menghubungi nomor 911, kebanyakan pasti ada hambatan dalam menghubungi mereka. Dan hanya baru sekali saja panggilan ini benar-benar dapat saya dengar bahwa ini adalah pihak kepolisian.
Tercatat
ancok
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Tulisan: 13

« Jawab #10 pada: 13 April 2009, 11:50:44 AM »

Masukan mas Firdaus bagus sekali. Memang faktor perilaku berlalu lintas tidak bisa dilepaskan dari kondisi jalan. Kurt Lewin ( Field Theory) beranggapan bahwa perilaku adalah produk dari interaksi antara sifat kepribadian dan kondisi lingkungan, B=f(E,0). Jadi penataan jalan menjadi sangat penting dalam menertibkan lalu lintas. Rancangan jalan yang tidak disertai rambu-rabu lalu lintas menyebabkan orang tidak tahu apakah dia melanggar peraturan  lalu-lintas atau tidak. Selain itu pembuatan jalan tidak maemperhitungkan aspek psikologi keselamatan. Misalnya di ringroad angka kecelekaan sangat tinggi karena U turn di buat di daerah tikungan, dan mobil tidak bisa melihat dengan leluasa mobil di depan dan di belakang. Jadi ilmu psikologi jalan raya harus perlu dimanfaatkan dalam pembuatan jalan. Pembuatan jalan bukan masalah teknis penyampuran beton, kerangka baja, semen , dll.tetapi juga masalah manusia pemakai jalan yang harus diperhitungkan dalam pembuatan jalan. Safety culture adalah bagian yang perlu ditanamkan, tetapi jalan-jalan juga harus dibuat sedemikian rupa agar safety bisa lebih dijamin.

Wass
Djamaludin Ancok
Tercatat
Haening 05140
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Wanita
Tulisan: 22

« Jawab #11 pada: 13 April 2009, 12:18:49 PM »

Assalamu'alaykum, mahasiswa S1 boleh ngikut ya  :D
kesadaran masayarakat tentang berlalu lintas kurang diperhatikan
kalo masalah lalu lintas itu kan kepentingan bersama
bagaimana mungkin orang memikirkan kepentingan bersama, sednagkan kepentingan sendiri pun masih terabaikan.
banyak kan dari kita (insyaallah saya ga) yang kalo cuma deket ga pake helm untuk keselamatan diri sendiri  ;D
padahal kecelakaan bias terjadi meski di gang kecil sekalipun, bahkan di kamar mandi aja ada kecelakaan (tapi bukan berarti peke helm kemana2  ;D)
pake helm cuma biar ga ketilang polisi
kalo ga ada polisi ya ga pake helm
polisinya juga ngadem di pos
kalo diri sendiri aja ga diperhatikan, gemana memperhatikan keselamatan orang lain dengan berlalu lintas yang baik?
yang bikin kesel tu kalo liat ada bapak2 bawa anaknya yang kecil2, anak2nya ga dipakein helm. kalo jatuh nanti dia nangis anaknya kepalanya bocor. orang yang paling dicintainya aja ga diperhatikan kesalamatannya, gemana ma orang yang ga dikenal?
dari kesadaran terkecil dulu c menurut aku
kalo di Amerika bisa gitu juga karena banyak banget kan pejalan kakinya, di Indonesia mah banyak yang males, jadi naik motor ato mobil (saya juga  ;D)
ini tanggapan dari sudut padang yang beda  :)
Tercatat
dyahratri
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Wanita
Tulisan: 5

« Jawab #12 pada: 14 April 2009, 01:33:51 PM »

assalammualaikum,

mungkin sebelum usul saya ingin menambahkan bagian firdaus, karena memang betul kita tidak bisa melihat dari spesifikasi manusianya saja, tapi juga fasilitas yang ada, seperti yang firdaus katakan tentang tata kota dan jalan, juga dengan fasilitas

seperti traffic light --> di Bandung saya menemui banyak persimpangan jalan dimana yang dari arah utara berlampu hijau, tapi yang arah selatan boleh maju terus..

dari aparat hukum yang ada --> semisal di persimpangan kita lihat ada petugas, dan kita tetap menyelobongs aja, tentu sudah resiko kita akan ditangkap (*pada tahap ini sudah pasti ada perasaan jera untuk mengulang), tetapi satu faktor lagi yang menambah adalah, saat petugas yang harusnya bertugas menilang dapat dengan mudahnya meloloskan hanya dengan 'uang rokok', akhirnya kejadianpun akan terus terulang. aparat penegak hukum saat ini belum semuanya benar-benar penegak hukum.

jujur saja, kalaupun sudah dilakukan kampanye besar-besaran tetapi lingkungan tidak mendukung menurut saya hal ini sangat sulit. mungkin bisa juga yang agak berlebihan sih, adanya aparat penegak hukum di setiap persimpangan, sejak awal kehadiran mereka tentu akan membuat kita waspada, kalaupun masih ada yang melanggar, langsung diberi konsekuensi negatif , seperti surat tilang atau feedback lainnya, dan aparat penegak hukum yang memberikan konsekuensi juga jangan sampai tergoda untuk menerima 'uang pelicin'.  :D

atau mungkin bisa digunakan budaya malu lebih disadarkan di masyarakat,, kalau di Jepang setiap mobil yang parkirnya salah akan diberi tanda pada mobilnya, tentu sang pengemudi tidak mau mngendarai mobil dengan ada tulisan stiker MELANGGAR LALU LINTAS (ctt : di Jepang juga dicatat waktu dan tanggal kejadian pada tanda yang ditempel di mobil).

selain itu, mungkin juga dengan adanya teknologi jaman sekarang, bisa dilakukan pengawasan dengan kamera, tetapi untuk pengawasannya memang rawan dengan error dan dibutuhkan SDM yang mencukupi untuk melihatnya.misal kamera di taruh di traffic light, saat terjadi pelanggaran kamera bisa merekam dan bahkan langsung meliha pada nomor polisinya, sehingga langsung dapat didata alamat dan pengemudinya (setahu saya di Perancis seperti itu). :)

wassalamualaikum


 
Tercatat
dyahratri
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Wanita
Tulisan: 5

« Jawab #13 pada: 14 April 2009, 01:56:27 PM »

maaf, ini ada satu tambahan lagi yang lupa ditambahakan..

untuk mengurangi terjadinya kecelakaan lalu lintas dapat dilakukan peredaan,

Peredaan lalu lintas dapat didefinisikan sebagai perbaikan kondisi lalu lintas dengan mengurangi kecepatan lalu lintas dengan menekankan pada keselamatan pejalan kaki, pengendara sepeda dan pengguna jalan yang rentan seperti anak–anak dan orang lanjut usia.

Teknik peredaan lalu lintas meliputi : speed trap, penyempitan jalan, pemasangan gerbang, bundaran, belokan horisontal, pelebaran jalur pejalan kaki. Penggunaan teknik peredaan lalu lintas telah diterapkan di negara maju seperti Inggris dan Fiji. Pengurangan angka kecelakaan bisa mencapai 30-50 % (Asian Development Bank, 1996)

untuk menambahkan bagian firdaus dan pak ancok tentang pembuatan jalan dan bagaimana jalan dibentuk, tetapi tentu dengan dasar yang telah pak ancok katakan, menyesuaikan dengan psikis ketertiban masyarakat sekitar.

Tercatat
Stephanie
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Wanita
Tulisan: 1

Margaretha Stephanie

« Jawab #14 pada: 14 April 2009, 02:47:29 PM »

senangnya akhirnya saya bisa gabung di forum ini..
menanggapi tulisan Pak Ancok..

Safety culture adalah bagian yang perlu ditanamkan, tetapi jalan-jalan juga harus dibuat sedemikian rupa agar safety bisa lebih dijamin.


wh ini dia budaya masyarakat kita.. padahal kalo kita mau inget lagi, safety needs adalah bagian dari basic needs dalam teory motivasinya maslow... bahkan safety needs adalah peringkat dasar no. 2 setelah basic needs yg bener2 basic seperti  makan dan minum. dimana yah kesadaran orang2 indonesia? apakah kita benar2 begitu primitifkah sebagai manusia,sampai2 kebutuhan yang begitu dasar untuk diri kita sendiri pun kita menjadi tak peduli??  :-\

Tercatat
Halaman: [1] 2 3 4 Cetak 
« sebelumnya berikutnya »
 

'SMF 2.0.5 | SMF © 2013, Simple Machines'
Dipersembahkan oleh Fakultas Psikologi UGM