Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
20 Juli 2018, 12:40:03 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Cari:     Pencarian lanjutan
Segera lengkapi Nama Tampilan Anda dengan identitas yang benar, bukan nama samaran.
* Home Bantuan Cari Masuk Registrasi
+  Forum Fakultas Psikologi UGM
|-+  Diskusi Psikologi
| |-+  Kurikulum Psikologi
| | |-+  Psikologi Analitik - Carl Gustav Jung
« sebelumnya berikutnya »
Halaman: [1] Cetak
Penulis Topik: Psikologi Analitik - Carl Gustav Jung  (Dibaca 38527 kali)
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« pada: 30 April 2007, 10:08:59 AM »

Saya memberanikan diri untuk mengambil inisiatif membuka topik baru untuk berbagi tentang �Sejarah dan Aliran Psikologi� (yang saya ketahui bahwa topik ini sekarang sudah dihapuskan dari kurikulum matakuliah wajib Fakultas Psikologi di Indonesia; sedangkan menurut pendapat saya sebenarnya bermanfaat sebagai dasar atau fondasi disiplin ilmu psikologi - baik bagi para mahasiswa psikologi maupun para peminat psikologi secara umum).

Penyajian tulisan oleh karenanya (sedapat mungkin) akan menggunakan bahasa yang ringan (tidak terlalu ilmiah) dan jika ada istilah-istilah yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia di belakangnya akan diikuti oleh istilah aslinya (agar tidak rancu pengertiannya). Agar dapat dinikmati dan dicerna sehingga bisa men�darah-daging� maka tulisan akan disajikan dalam beberapa episode (yang pasti tidak akan sepanjang kisah �Api di Bukit Menoreh� ataupun sinetron-sinetron di televisi).

Saya akan memulainya dari Carl Gustav Jung � salah seorang tokoh Psikoanalisis, karena kebetulan saya punya koleksi beberapa tulisannya yang beberapa waktu lalu sempat saya bongkar dan baca lagi karena ada pertanyaan dalam forum diskusi ini tentang �Bayangan� (Shadow). Setelah membaca (kembali) tentang Jung, saya temukan kembali keindahan, keasyikan dan kehebatan teori Jung yang ternyata tidak hanya applicable di bidang klinis saja, namun juga dalam kehidupan (normal) sehari-hari.

Harapan saya semoga sharing ini dapat memicu dan memacu para pecinta psikologi (dosen � tentunya, mahasiswa, dan siapa saja) untuk juga berbagi �pengalaman/kekayaan ilmu� melalui tulisan-tulisan dalam topik ini. Kalau ada yang mengidolakan Maslow, Eysenk, Piaget, Adler, Allport, Bandura, dsb. mengapa tidak juga memperkenalkan idolanya dengan menuangkannya dalam tulisan di forum ini ?


1. Carl Gustav Jung : hidup dan kehidupannya

Swiss adalah sebuah negara dengan seribu gunung yang puncaknya senantiasa diselimuti salju, dibalut oleh kesunyian lembah-lembah di sekitarnya, dan dihiasi dengan kebeningan biru air danau yang bertebaran mengelilinginya. Kekayaan budaya dan bahasanya juga tercermin dari negera-negara yang mengelilinginya: di utara bersebelahan Jerman, di barat dan selatan bertetangga dengan Perancis dan Italia. Di perbatasan timur laut, di lereng pegunungan Alpen, di pinggiran danau Constance adalah sebuah desa kecil bernama Kesswil. Di sinilah pada 26 Juli 1875, Carl Gustav Jung dilahirkan.

Jung muda mulai belajar bahasa Latin dari ayahnya ketika ia berusia 6 tahun. Pada usianya yang masih tergolong dini ini, oleh Emilie Preiswerk � sang ibu, Jung sudah diperkenalkan dengan studi tentang perbandingan berbagai agama melalui komik-komik. Jung menaruh minat yang sangat bersar terhadap gambar-gambar eksotik dewa-dewa dalam agama Hindu.

Semasa di gymnasium (=SMU kalau di Indonesia) dan kemudian di Universitas Basel, Jung sebenarnya tertarik dengan bidang arkeologi. Namun karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, akhirnya pilihan jatuh pada bidang kedokteran. Alasannya adalah bahwa dengan menjadi dokter (kelak), dia masih akan bisa mewujudkan keinginannya memperdalam arkeologi.

Kurikulum di fakultas kedokteran mensyaratkan matakuliah psikiatri, namun Jung tidak tertarik dengan mata kuliah ini sampai kemudian di tingkat akhir Jung membaca tulisan Richard von Krafft-Ebing �Lehrbuch der Psychiatrie� (Teksbook tentang Psikiatri). Jung melihat peluang bahwa psikiatri adalah cara atau jalan untuk menggabungkan minatnya di bidang filsafat dengan komitmennya terhadap natural sciences.

Pada tahun-tahun terakhir sebagai mahasiswa kedokteran, ada dua pengalaman tidak terlupakan bagi Jung, yang membuatnya takjub akan parapsikologi (studi tentang gejala-gejala kehidupan yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah).
 
Pengalaman pertama terjadi pada suatu hari ketika Jung sedang belajar di rumahnya. Dia mendengar suara yang sangat keras, seperti bunyi pistol yang meletup dari ruang makan yang terletak di sebalah kamarnya. Suara itu ternyata berasal dari sebuah meja yang terbuat dari kayu walnut utuh yang sudah berumur 70 tahun. Meja itu terbelah dari pinggir sampai ke bagian tengahnya. Jung tidak bisa menemukan jawaban mengapa peristiwa itu bisa terjadi.

Pengalaman kedua terjadi dua minggu kemudian. Ketika ia kembali ke rumahnya pada suatu malam, Jung menemukan perabotan rumahnya porak poranda. Ibunya, adik perempuannya, dan juga pembantunya mendengar suara yang sangat keras dari ruang makan namun mereka tidak menemukan sesuatu yang pecah atau jatuh. Jung kemudian memeriksa ruang makan, dan akhirnya dia menemukan sesuatu. Di dalam almari makan, didapatinya pisau roti telah terpotong menjadi 4 bagian yang terpisah. Peristiwa ini begitu mengesankan bagi Jung, hingga kemudian dia menyimpan potongan pisau roti itu sebagai �barang bukti�.

Perhatian Jung terhadap parapsikologi semakin besar beberapa minggu setelah kejadian pisau roti itu, ketika ia mendapati seorang gadis 15 tahun yang mengalami trance dan memperoleh penglihatan (vision) dan bisa berkomunikasi secara ajaib. Trance � menurut definisi Jung, adalah sesuatu yang spontan. Namun dalam keadaan yang demikian gadis itu bisa berkomunikasi dalam bahasa dan dialek Jerman secara fasih (bukan seperti lazimnya dialek gadis desa di Swiss). Jung mencatat kejadian ini dan kemudian menjadikannya fenomena gadis kecil itu sebagai salah satu bagian penting dari disertasi doktornya. Tulisannya tentang kejadian ini dipublikasikan dengan judul �Zur Psychologie und Pathologie sogennanter occulter Phanomene� (Tentang Psikologi dan Patologi Fenomena yang disebut dengan Okultis�.

Jung lulus sebagai dokter di tahun 1900 dan kemudian dia diangkat sebagai dokter pembantu di sebuah rumah sakit terkenal �Burgholzli� di Zurich, dimana Eugene Bleuler adalah dokter kepala di bidang psikiatri di rumah sakit tersebut. Bleuler adalah orang yang memiliki minat yang sama dengan Jung dalam hal parapsikologi. Dua tahun kemudian Jung dipromosikan sebagai dokter senior dan juga diminta untuk mengajar matakuliah psikiatri di Universitas Zurich.

Pada tahun 1902-1903, bersama Pierre Janet (orang pertama yang mencetuskan ide tentang psikiatri dinamis sebagai pengganti psikiatri konvensional atau psikiatri abad XIX) Jung belajar di Paris. Janet memiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap Jung. Bahkan beberapa tahun kemudian, Jung menyatakan bahwa dalam hidupnya, dia �hanya memiliki dua guru � Bleuler dan Janet�.

Di RS Burgholzli - sebelum dan sesudah Jung belajar di Paris, Bleuler menaruh perhatian besar terhadap karir Jung. Bleuler membantu Jung dalam penyediaan laboratorium di RS untuk keperluan penelitian parapsikologi. Pada tahun 1904, sekembalinya dari Paris Jung bersama dengan beberapa rekan dokter melakukan eksperimen yang dikenal dengan Tes Asosiasi Kata (Word Association Test = WAT). Dukungan Bleuler lagi-lagi ditunjukkan pada usaha Jung ini, karena kebanyakan psikiatris di Swiss pada waktu itu selalu mengkaitkan penyakit mental atau kejiwaan adalah disebabkan karena faktor organik, fisik. Eksperimen Jung dalam WAT inilah yang kemudian mengantarkannya berkenalan dengan Freud.

Jung menikah dengan Emma Rauschenbach pada tahun 1903. Mereka dikaruniai tiga orang putri dan satu orang putra. Carl dan Emma kemudian membangun keluarga mereka di Kusnacht � kota satelit dari Zurich. Mereka menetap di sana sampai akhir hayat mereka.
 
Di tahun 1948 Jung mendirikan sebuah institut di Zurich untuk meneruskan penelitian-penelitian dan juga sebagai wadah untuk melatih mereka yang berminat untuk menjadi (psiko)analis. Di samping banyak menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam tulisan, Jung juga banyak melalukan perjalanan � baik untuk tujuan mengajar namun lebih sering untuk mengumpulkan data atau informasi terutama tentang Mimpi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan teorinya. Jung mengunjungi Afrika, India, Inggris dan juga Amerika. Jika tidak melakukan perjalanan, Jung senantiasa menyelenggarakan seminar mingguan baik di Zurich, Jerman dan juga di Inggris. Dalam mendidik, Jung menerapkan pendekatan informal namun dia memegang teguh kebiasaan bahwa para anak didiknya yang berniat untuk menjadi (psiko)analis harus melalui proses analisis individual yang dilakukannya sendiri. Jung dikenal sebagai pribadi dan pendidik yang terbuka terhadap gagasan-gagasan baru sebagaimana tercermin pada apa yang dikatakannya �Terima kasih Tuhan, karena saya adalah Jung bukan seorang pengikut Jung�. Minatnya terhadap kehidupan psikisnya tercermin dalam buku �Memories, Dreams, Reflections� (Ingatan, Mimpi dan Renungan) yang menggambarkan kehidupan seorang ilmuwan yang penuh keteladan diri dan dipengaruhi oleh aspek-aspek teori psikologi yang dikembangkannya.

Menginjak usianya yang ke 70 (tahun 1945) Jung mulai mengurangi kegiatannya sebagai analis atau praktek dan lebih mengkhususkan diri untuk menulis dan mengajar. Jung meninggal di rumahnya di Kusnacht, Swiss pada tanggal 6 Juni 1961 � hanya beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ke 86.

(nantikan tulisan berikutnya �Jung dan Freud� yang akan mengulas tentang perjumpaan, persahabatan, dan juga �perpisahan� � baik sebagai pribadi maupun dalam konteks profesi, di antara dua tokoh psikoanalisis ini)


Daftar Bacaan
Blair, Deirdre, Jung: A biography, Boston: Little Brown, 2003.
Shamdasani, Sonu, Jung and the Making of modern Psychology: the dream of a science, Cambridge, Cambridge University Press, 2003.
Tercatat
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« Jawab #1 pada: 11 Mei 2007, 09:18:44 PM »

(... sambungan dari tulisan sebelumnya)


2. Jung dan Freud

Perkembangan intelektual Jung mencerminkan iklim sosial dari kota Basel di Swiss pada peralihan abad ke XX. Sedangkan Freud mencerminkan kota Wina  di Austria � yang notabene adalah pusat budaya, filosofi dan medis di Eropa pada waktu itu. Basel lebih konservatif dibandingkan dengan Wina.

Untuk bisa memahami teori Jung secara lebih baik, adalah penting untuk juga mengetahui bagaimana hubungannya dengan Freud. Jung mengawali pekerjaannya sebagai seorang psikiatris dan menulis teori-teori psikologi tentang orang dewasa. Sekitar enam tahun kebersamaannya dengan Freud adalah merupakan tahun-tahun yang penting bagi perkembangan intelektual dan professional Jung, dan hal ini tidak pernah disangkal oleh Jung.

Ketika �Interpretation of Dreams� karya Freud dipublikasikan tahun 1900, Jung membacanya atas himbauan Bleuler. Baru tiga tahun kemudian Jung menyadari bahwa tulisan Freud itu potensial untuk menjelaskan mekanisme represi � yang diterapkannya melalui eksprerimen WAT nya. Pada tahun 1906 Jung mengirimi Freud copy pertama dari �Diagnostic  Assocation Studies : Contributions to Experimental Psychopathology� � yang disuntingnya dan berisikan 6 studi dari Jung dan dokter-dokter lainnya di RS Burgholzli. Freud memberikan catatan dan juga copy pertama dari �Collected Short Papers on the Theory of the Neuroses�. Jung mengucapkan terima kasih atas balasan Freud dan juga kiriman bukunya, namun Jung juga mempertanyakan teori-teori Freud yang terlalu menitikberatkan pada trauma seksual (masa kanak-kanak khususnya).

Jung bertemu muka dengan Freud untuk pertama kalinya pada 3 Maret 1907 di Wina. Mereka bertukar pikiran selama tigabelas jam non-stop ! Dalam kurun waktu enam tahun kemudian, relasi antara Jung dan Freud diwujudkan dengan berkorespondensi lewat surat dan juga melalui beberapa kali pertemuan langsung. Melalui surat-surat nya kepada Freud dan juga perjumpaannya, Jung menyadari bahwa teori-teorinya adalah tidak sama dengan teori-teori Freud. Namun di atas perbedaan ini, atas dukungan Freud, Jung diangkat menjadi presiden dari International Psychoanalytic Association (IPA) tahun 1910.. Freud berharap bahwa Jung berkenan memangku jabatan ini seumur hidup, atau dengan kata lain Freud menginginkan Jung menjadi �pewarisnya�.

Baik Freud dan Jung adalah dokter yang berangkat dari titik yang sama : observasi terhadap data. Freud berkeinginan kuat untuk sampai pada satu teori komprehensif yang dapat menjawab atau menjelaskan semua data yang ada dan yang akan ada  (sebagaimana teori gravitasi dalam fisika). Sedangkan Jung melihat fenomena psikologis sebagai sesuatu yang berbeda dari fenomena fisika dan oleh karenanya membutuhkan kerangka teoretik yang mampu beradaptasi dan fleksible dengan memperhitungkan keragaman pengalaman (perilaku) manusia yang tidak terbatas

Hasilnya adalah dua kerangka teoretik yang memiliki aroma yang sangat berbeda. Teori Freud dikembangkan  sebagai sesuatu yang lebih pasti dan spesifik � dan oleh karenanya bersifat kaku. Sedangkan Jung adalah lebih terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan baru dan mudah dimodifikasi � akibatnya adalah bersifat agak kabur (vague). Freud lebih cenderung untuk  langsung sampai pada kesimpulan, dan menekankan pada sistem tertutup (closed system) � mengandaikan bahwa tidak ada lagi hal baru yang perlu dan bisa dipelajari tentang perilaku dan pengalaman manusia. Banyak orang kemudian menganggap bahwa teori Freud adalah dogmatis. Jung terus menerus menganjurkan pengujian terhadap hipotesis yang ia ajukan, dan dia berkeyakinan bahwa psikologi sebagai ilmu masih pada taraf mengumpulkan dan mengolah data, belum sampai pada titik akhir untuk menarik kesimpulan. Karena Jung mengikutsertakan begitu banyak data yang cukup sulit untuk diamati dan direplikasi, orang sering menjulukinya sebagai �mystical�

Sebagaimana Jung, Freud juga mengalamai �Creative Illnesses� yang ditandai dengan gejala-gejala fisik dan kelekatan emosional yang intens pada orang tertentu, khususnya Wilhelm Fliess dan Josef Breuer. �Sakit Kreatif� nya Jung bercirikan munculnya ancaman terhadap isi Alam Bawah Sadar yang beigtu kuat dan berlimpah, yang disebutnya sebagai Archetypal. Kreativitas Freud berfokus pada penggambaran Struktur Alam Pikiran, sedangkan Jung pada pemahaman suatu dimensi Alam Bawah Sadar di luar Kesadaran individu berikut segala isinya.

Dalam usahanya untuk memahami Stuktur Alam Pikiran, Freud berrhipotesis bahwa Alam Bawah Sadar terbentuk seluruhnya dari isi (pengalaman) individual. Beberapa dari isi alam pikiran ini dapat masuk dalam Alam Pikiran dan diingat , dan yang kemudian akan dapat dengan mudah dijangkau oleh Kesadaran. Freud menyebutnya sebagai  Pre-conscious. Isi alam bawah sadar yang lain akan ditekan dan disimpan � dibatasi dari Kesadaran oleh suatu kekuatan, dan oleh karenanya hanya akan dapat muncul kembali ke alam Kesadaran juga dengan suatu usaha. Sedangkan Jung menganggap bahwa Alam Bawah Sadar terbentuk hanya sebagian oleh pengalaman individual, termasuk di dalamnya isi Archetypal yang dibentuk di luar realitas pengalaman individual. Bagi Freud, Alam Bawah Sadar adalah bersifat patologis, sedangkan bagi Jung alam bawah sadar itu sehat, bahkan cenderung kreatif sekalipun ada juga unsur patologisnya

Minat terhadap Alam Bawah Sadar telah menyatukan dua tokoh besar mazhab Psikoanalis ini, namun perbedaan dalam konsep atau cara pendekatanlah yang akhirnya �memisahkan� keduanya. Pada tahun 1912, perbedaan pandangan antara Freud dan Jung muncul ke permukaan dengan terbitnya karya Jung �Transformasi dan Simbol-simbol Libido� (Wandlungen und Symbole der Libido), yang kemudian direvisi dan diterbitkan kembali dengan judul �Simbol-simbol dari Transformasi�. Dalam pertemuan IPA di Munich tahun 1913, buku ini menjadi bahan diskusi dan perdebatan yang sangat hangat. Tujuh bulan kemudian Jung mengundurkan diri sebagai presiden dan  kemudian juga dari keanggotaan IPA. Jung dan Freud tidak pernah bertemu lagi selepas petermuan di Munich, kecuali pada tahun 1938 Jung pernah mengirimkan utusan kepada Freud untuk menawarkan bantuan untuk menolong Freud keluar dari Austria (yang waktu itu didominasi oleh Hitler); namun Freud menolak tawaran Jung ini. Atas bantuan Dubes Amerika, Freud dan keluarganya akhirnya bisa keluar dari Austria dan tinggal di Inggris sampai wafatnya di tahun 1939.

Jung sendiri sebenarnya pernah menyebut dirinya sebagai �murid Freud� dan dalam beberapa suratnya, Jung juga menyatakan loyalitasnya pada Freud. Jung bahkan menyebut kelompok psikoanaliitis yang dikelolanya sebagai �Freudian�. Sekalipun demikian, kemandirian Jung atas Freud juga ditunjukkan melalui surat-suratnya yang dengan gigih mempertanyakan konsep Neurosis nya Freud yang berakarkan pada polymorphous, perlawanan dan hal-hal yang bersifat jelek (perverse), dan seksualitas pada masa kanak-kanak. Dari sini jelaslah bahwa karya Jung tidaklah sepenuhnya dipengaruhi oleh Freud baik itu sebelum, selama atau sesudah keterdekatan pergaulannya bersama dengan Freud. Sebagian besar karya Jung sama sekali tidak mencerminkan ciri-ciri Freudian (pengikut Freud). Ada juga pendapat umum yang mengatakan bahwa Jung sebenarnya hanya �menyimpang sedikit� dari teori-teorinya Freud. Namun kenyataan juga menunjukkan bahwa pemikiran-pemikiran Jung adalah orisinal, asli khususnya mengenai sistem psikologi, psikoterapi dan analisis tentang Mimpi yang sangat berbeda dengan psikoanalisisnya Freud.

Beberapa kerancuan muncul karena dalam masa pergaulannya dengean Freud, Jung menyebut metode terapinya sebagai �Psikoanalisis� dan menyebut dirinya sebagai seorang �Psikoanalis�. Istilah ini sangat melekat bahkan kemudian diidentikan dengan teori-teori Freud dan para pengikutnya. Freud hanya menginginkan �murid yang dengan sepenuh hati menerima penuh seluruh ajarannya atau yang mengembangkan ajarannya dalam pengawasannya sepenuhnya�, Prasyarat ini sama sekali tidak dapat diterima oleh Jung, hingga akhirnya �perpisahan� di antara kedua innovator psikoanalisis menjadi tidak terhindarkan. 

(tulisan berikut akan mengulas tentang Psikologi Analitik di antara mazhab-mazhab psikologi lainnya, nantikan di episode selanjutnya)

Daftar Bacaan
Fey-Rohn, Liliane, From Freud to Jung, New York: Putnam, 1974
Tercatat
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« Jawab #2 pada: 27 Juni 2007, 10:58:41 AM »

(... sambungan dari tulisan sebelumnya)

Tulisan kali ini mengangkat teori Jung tentang Kepribadian, yang secara garis besar dapat dibedakan antara Psyche yang Tampak (Visible Psyche) dan Bawah Sadar (Unconscious). Dalam kesempatan ini, akan dibahas tentang Psyche yang Tampak.

Psyche adalah merupakan gabungan atau jumlah dari keseluruhan isi mental, emosional dan spiritual seseorang. Karena merupakan gabungan dari sejumlah unsure, kita sering mendapati bahwa Psyche kita menunjukkan atau tampak sebagai sesuatu yang kontradiktif atau bertentangan. Untuk memahami bagaimana dan mengapa itu dapat terjadi, kita akan mulai pembahasan dari bagian yang sudah kita kenal atau ketahui, dan juga sebagaimana dikenal oleh dunia (di) luar (diri kita), yaitu :     3. Psyche yang Tampak (Visible Psyche)

PERSONA

�Bagian depan� atau front office dari kepribadian kita dikenal dengan istilah Persona (dari bahasa Latin, yang artinya adalah �topeng�). Persona adalah wajah kepribadian yang ditunjukkan kepada dunia luar, dengan maksud agar dapat diterima dan dihargai secara social. Wujud nyata dari Persona adalah perilaku atau sopan santun yang kita tunjukkan, misalnya dengan berkata �Terima kasih�, �Maaf�, �Silahkan�, dsb. Sekalipun pada waktu mengucapkan kata-kata tersebut kita tidak sepenuhnya mengartikannya demikian.

Orang tidak akan mengenakan topeng yang sama untuk setiap kesempatan atau pada setiap waktu atau tempat. Setiap topeng adalah merupakan respon terhadap situasi atau individu yang spesifik. Misalnya seorang wanita yang bekerja sebagai dokter, dia akan memakai topeng dokter, isteri, ibu, tetangga, teman, dsb. Jumlah atau gabungan dari total topeng yang digunakan oleh seseorang inilah yang disebut dengan Persona. Persona adalah kompromi yang sifatnya unik antara tuntutan lingkungan dan kebutuhan individual seseorang. Oleh karenanya satu orang bisa memiliki banyak variasi atau bentuk topeng yang dikenakannya, misalnya topeng-topeng untuk anggota keluarga yang berlainan (ibu, bapak, mertua, ipar, adik, anak, cucu), topeng-topeng lainnya untuk rekan kerja (atasan, rekan kerja, bawahan, pelanggan, pemasok).

Sekalipun Pesona dapat dilihat nyata secara lahiriah, namun tidaklah mudah untuk mengendalikan atau mengganti topeng-topeng itu secara cepat dan tepat. Kesulitan untuk mengganti topeng-topeng kita secara cepat dan tepat ini akan sangat tergantung dari proporsi peran atau keterlibatan seseorang dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat secara umum. Sering kali peran-peran ini sering tidak sejalan atau saling bertentangan hingga dapat menghasilkan ketidaknyamanan (psikis). Seorang remaja pria misalnya, mungkin akan mengenakan topeng anak manis yang taat di hadapan orang tua atau gurunya. Sementara topeng garang atau jutek akan dikenakannya pada waktu berhadapan dengan adik atau teman sekolahnya. Pada waktu dia ada di antara orangtua dan adiknya, atau di antara guru dan teman-teman sekolahnya, sangat mungkin ia akan berperilaku yang sama sekali bukan sebagai anak-manis ataupun jutek. Sangat mungkin ia akan berperilaku sebagai seorang remaja yang pemalu.

Persona bermanfaat untuk adaptasi dengan dunia (luar). Tanpa Persona yang berkembang, orang akan menemui kesulitan social untuk mencapai tujuan tertentu yang mengandaikan impresi atau kesan positif dari orang lain. Misalnya anak muda yang over-protected mungkin tidak akan bisa belajar untuk memulai membangun persahabatan atau network nya sendiri. Atau bisa juga seseorang akan sangat mudah tersinggung terhadap orang lain yang tidak sependapat atau sepaham dengannnya. Sebagai akibatnya, ia akan sangat sering ngambek, mutung yang akan berdampak tidak langgengnya suatu persahabatan.

Dalam beberapa kasus, Persona seseorang bisa menimbulkan konflik dengan harapan orang lain. Misalnya seseorang yang bekerja sebagai tenaga penjual, salesman atau customer service dimana topeng-topeng keramahan, outgoing, kesabaran sangat diharapkan oleh orang lain yang dihadapinya. Apabila orang merasa sangat terpaksa mengenakan topeng-topeng ini, dia mungkin bisa mengenakannya hanya sesaat, atau bila dikenakan ia akan tampak tidak wajar atau aneh. Apabila ini terus berlanjut bisa jadi orang akan jadi depresi atau sebaliknya bisa kehilangan pekerjaannya.

Persona seperti yang diinginkan (oleh dunia luar) kadang juga dapat dibentuk secara sengaja dan dapat berhasil atau berfungsi dengan baik. Kutipan syair lagu �Dunia ini Panggung Sandiwara� adalah contoh paling tepat untuk menggambarkan dan menjelaskan ini.

Persona adalah juga bersifat mandiri dan karenanya ia dapat juga konflik dengan harapan atau kesadaran seseorang. Contoh nyata adalah para public figure � apakah itu para selebritis, artis, politikus, presenter, pelawak, dsb. Karena begitu sering dan mudahnya orang untuk mengenakan topeng sebagaimana dikehendaki atau yang dapat diterima oleh publik atau masyarakat luas, ia tidak jarang dapat kehilangan kontak dengan perasaan atau kepribadian diri yang sebenarnya. Pada titik ekstrimnya, jika orang merasa tidak mungkin untuk bisa mengungkapkan dirinya yang sebenarnya akan sangat rentan terhadap hal-hal yang drastic, misalnya lari ke penggunaan narkoba atau bahkan sampai bisa bunuh diri.


EGO

Ego atau �saya� dalam bahasa Latin adalah merupakan pusat dari kesadaran � inisiator, pengarah dan pengamat terhadap pengalaman-pengalaman (kesadaran) seseorang. Sedangkan pusat dari keseluruhan kepribadian (baik Kesadaran maupun Bawah Sadar) disebut dengan Self. Sebagai pusat dari Kesadaran, Ego yang berfungsi dengan baik akan menerima realitas secara akurat dan akan mampu memilah-milahkan dunia luar dari inner images. Ego semacam ini akan mampu mengarahkan pikiran dan tindakan seseorang. Ego akan juga mampu menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan seseorang : �Saya pikir�, �Saya rasa�, �Saya memahami�, dst.

Ego sejati adalah bukan Ego yang �besar� atau arogan, bahkan sangat mungkin merupakan Ego yang kurang berkembang dengan baik atau Ego yang rapuh. Ego semacam ini sering tidak akan mampu untuk menghadapi dengan tantangan-tantangan secara konstruktif. Ia akan menjadi defensif dan bahkan mengabaikan adanya atau kehadiran orang lain. Sebaliknya, Ego yang sehat akan bisa memiliki toleransi terhadap kritik, halus dan berfungsi dengan baik.

Pembentukan Ego � menurut Jung, dimulai dengan �benturan� antara kebutuhan fisik seseorang dengan lingkungannya. Agar dapat bertahan hidup, seorang bayi akan harus bisa menunjukkan kebutuhannya kepada dunia luar: cinta, makanan dan minuman, perlindungan. Melalui proses atau cara ini embrio Ego kemudian akan bisa memilah-milahkan  antara dirinya dengan lingkungan (di luar dirinya), dan juga dengan orang-orang yang ada dan terlibat di dalamnya.

Pada waktu dilahirkan, seorang bayi akan dibungkus oleh Bawah Sadar Kolektif (Collective Unconscious). Sebelum kita bisa menemukan bahwa sebagian dari Psyche adalah tersembunyi (Bawah Sadar), kita akan cenderung berfikir bahwa Ego adalah segalanya. Perkembangan Ego termasuk juga bagaimana anak (bisa) menjadi atau mengenali antara dirinya dengan dunia Bawah Sadarnya.

Sebagai pusat dari Kesadaran, Ego menjamin atau menyediakan kesinambungan (continuity) bagi Kepribadian. Hal ini tampak pada waktu kita berkata �Pada waktu saya berumur 4 tahun�  dan kita juga dapat mengetahui bahwa �anak umur 4� adalah sama dengan orang yang saat ini berkata �Saya�. Ini adalah wujud nyata dari berfungsinya Ego. Ego akan membawa kenangan yang akan dapat menghubungan seseorang dengan masa lalu (nya) dan juga dengan kompleksitas pengalaman-pengalamannya saat ini.


TIPOLOGI

Setiap orang adalah unik karena dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman histories yang begitu banyak dan beragam. Tanggapan kita terhadap pengalaman-pengalaman ini adalah hasil dari temperamen yang belum tampak (inborn temperament) dan bahan dasar yang sifatnya majemuk dari tanggapan-tanggapan yang kita tunjukkan sebelumnya.

Apakah itu Temperamen ? Bayi yang baru lahir ada yang sangat aktif, ada juga yang kalem. Ada juga yang sangat sensitive terhadap cahaya, suara, sentuhan, sementara bayi lain tampak begitu �cuek� dengan lingkungan sekitarnya. Sampai dengan akhir Masa Kanak-kanak atau Masa Remaja awal, penampakan Temperamen akan sudah dapat digambarkan , demikian menurut Jung.

Setiap orang �berdasarkan teori Kepribadian Jung, memiliki Ego, Persona dan kompoknen lain dari Psyche, masing-masing dengan karakter kepribadian individual. Sekalipun demikian, ada kesamaan di antara individu yang berbeda tersebut yang dapat ditarik benang merahnya untuk membentuk suatu dimensi. Setiap orang memiliki potensi atas semuanya itu, tetapi dengan derajat atau tingkat yang berbeda-beda. Satu atau dua unsure bisa jadi merupakan cara yang dominan atau menonjol bagi seseorang dalam memandang atau menghadapi dunia (luar) nya.

Jung mulai mengembangkan teori tentang Type - yang kemudian dikenal dengan Tipologi Jung, dari pengamatan terhadap hubungan Sigmund Freud dengan para pengikutnya, termasuk di antaranya Alfred Adler. Adler dan Freud tidak sependapat tentang asal-muasal Neurosis. Bagi Freud, asal atau sebab Neurosis adalah konflik seksual, bagi Adler adalah konflik social � khususnya keinginan terhadap kekuasaan. Perbedaan ini � sebagaimana diamati oleh Jung, adalah merupakan perbedaan cara pandang dalam mengalami dunia luar. Sebagian orang akan memiliki kecenderungan �ke dalam� (inwardly-oriented), sebagian lagi outwardly. Jung menamai unsur ini sebagai �Introversion dan Extraversion�. Menurut Leona Tyler � seorang professor psikologi dan pengarang buku �The Psychology of Human Differences� (1965) Jung adalah orang pertama yang menggunakan istilah �Extraversion� dan �Introversion� untuk menggambarkan kepribadian  atau tipe-tipe psikologis, sekalipun perbedaan di antara keduanya sudah ada selama berabad-abad.

Melalui penjelajahan literature sejarah, Jung menemukan hal yang sama misalnya perbedaan ideologis antara Carl Spittler dan Johann Wolfgang Goethe, antara Apollo dan Dionysius. Jung melihat Freud sebagai seorang yang Extraversi sedangkan Adler sebagai Introversi. Perbedaan-perbedaan inilah sangat mungkin yang merupakan factor penyebab �perpisahan� di antara Freud dan Jung (yang juga seorang Introversi).

Introversion menaruh perhatian terhadap faktor-faktor subyektif (subjective factors) dan tanggapan internal (inner response). Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurahkan perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subyektif. Dan oleh karenanya ia akan tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian (judgement). Seorang introvert secara relatif akan memiliki teman yang lebih sedikit namun ia akan sangat setia, loyal terhadap mereka. Ia akan tampak sebagai pemalu dalam situasi social, dan mungkin juga sangat hati-hati, pesimistis dan kritis.

Sebaliknya, seorang Extravert akan menaruh perhatian lebih pada dunia di luar dirinya � orang, kejadian dan benda atau barang lain, dan akan dapat dengan mudah menjalin hubungan dengan mereka. Orang tipe ini akan memiliki kecenderungan untuk superficial, siap untuk menerima dan mengadopsi conventional standard, tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik.

Tipe kepribadian ini akan berpengaruh terhadap perasaan, pikiran dan perilaku seseorang, dan ia akan berada di bawah kendali Ego.  Tipe yang tidak dominan � dimana ia tidak berada di bawah kendali Ego, akan tetap berada di alam Bawah Sadar. Misalnya seorang introvert yang mencoba untuk mengungkapkan minat atau kesenangannya, sangat mungkin akan bercerita tentang sesuatu yang sangat unik dan spesifik yang tidak dikenal atau diketahui oleh orang kebanyakan (misalnya tentang bunga anggrek spesies tertentu yang hanya ada di Himalaya, atau tentang motif batik yang begitu njlimet)

Sekalipun Jung memakai istilah Tipologi atau Type, dia tidak bermaksud untuk mengkotak-kotakkan orang sebagaimana banyak kritik menyebutkan tentang teori kepribadian Jung ini. Jung menempatkan tipologi ini sebagai Dimensi (dimension) : setiap orang memilikinya, bagi sebagian orang ia lebih banyak berada di Kesadarannya, sementara bagi sebagian orang lain lebih banyak berada di Bawah Sadarnya. Tendensi psikologis ini merupakan alat Bantu untuk memahami dan menghargai orang lain atau cara-cara mereka berhadapan dan menghadapi dunia (di luar diri) nya.

Banyak orang yang tidak begitu akrab dengan teori psikologi mengenal Jung melalui Tipologi, misalnya melalui Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) � yang biasanya banyak digunakan sebagai alat Bantu (psikologis) dalam perkawinan atau industri (seleksi). Melalui MBTI orang akan bisa mengatakan bahwa �saya adalah tipe INFP, ESTJ atau satu di antara 14 kombinasi tipe-tipe ini�. Alat ukur lain yang terkenal adalah Gray-Wheelwrights Jungian Type Survey (GWJTS), Singer-Loomis Inventory of Personality (SLIP) dan Keirsey Temperament Sorter (KTS). Alat-alat ukur tersebut semuanya mendasarkan diri pada teori Jung.

Tulisan berikutnya akan mengupas tentang bagian Bawah Sadar dari teori kepribadian menurut Jung
Daftar Bacaan
- Sharp, Daryl, Personality types : Jung�s model of typology. Toronto: Inner City Books, 1987
- Meier, C.A., Personality: The individuation process in the light of C.G. Jung�s typology. Einsiedeln, Switzerland: Daimon Verlag, 1995
- Edinger, Edward F. Ego and Archetype, New York: Putnam, 1972.

Tercatat
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« Jawab #3 pada: 28 Juni 2007, 11:35:29 AM »

(... sambungan tulisan sebelumnya)

4. PSYCHE YANG TERSEMBUNYI (the Hidden Psyhce)

BAWAH SADAR

Bawah Sadar dari Psyche dibentuk atau berisikan banyak hal dan beragam antara orang yang satu dengan yang lainnya, dan dari waktu ke waktu. Isi yang �tersembunyi� ini sebagian bersifat individual, sebagian lagi kolektif. Isi dari alam Bawah Sadar adalah sangat jauh lebih banyak dan beragam jika dibandingkan dengan isi Kesadaran. Kebanyakan orang (awam) menyebut isi dari alam Bawah Sadar manusia ini dengan sebutan �Bawah Sadar�, sedangkan istilah �Psyche Bawah Sadar� � yang sebenarnya lebih tepat, hanya sedikit dipahami dan dipergunakan di kalangan para professional (psikoanalis).

Sebagai konsep yang sangat khusus, gagasan tentang proses mental � dan juga aspek aspeknya, berawal pada tahun 1700 an, kemudian menjadi topik atau bahan pembicaraan (wacana) pada sekitar 1800 an, dan menjadi teori pada tahun 1900 an. Penemuan sebelum tahun 1730 kebanyakan dilakukan oleh para filsuf atau sastrawan, yang kemudian diikuti oleh para dokter, ahli nujum dan para teolog. Dari 1730 sampai 1800, para filsuf dan sastrawan adalah dua profesi yang terus menerus melontarkan hipotesis tentang Bawah Sadar.

Setelah �perpisahannya� dengan Freud, Jung memiliki lebih banyak kebebasan untuk memperdalam dan mengembangkan teori-teorinya � khususnya tentang isi dari pikiran dan alam bawah sadar. Antara tahun 1913 � 1919 Jung menjalani apa yang disebut dengan �ketidak pastian internal� (internal uncertainty) atau disorientasi, yang oleh Henri F Ellenberger disebutnya sebagai Creative Illness. Pada masa ini Jung meluangkan banyak waktunya untuk bekerja, meneliti dan memperdalam pemahamannya tentang Mimpi dan Fantasi. Sebagai hasilnya banyak dari teori-teori Jung yang lahir di antara tahun tersebut. Mulai 1919 � 1944 � pada saat pekerjaan Jung banyak terganggu karena penyakit yang dideritanya, Jung kemudian menuangkan teori-teorinya itu ke dalam kumpulan tulisan yang diberi judul Collected Works

Jung membedakan istilah antara Ambang Sadar (Subconscious) dan Bawah Sadar (Unconscious) karena menurutnya di alam Bawah Sadar terdapat banyak kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sangat bermutu. Jung menggunakan istilah Ambang Sadar untuk merujuk pada isi alam Bawah Sadar yang sifatnya sementara, Freud menyebut hal ini dengan Preconscious. Jika Freud beranggapan bahwa isi dari Bawah Sadar semuanya adalah bersifat pengalalam-pengalaman individual, Jung mengemukakan bahwa sebagian dari isi Bawah Sadar adalah bersifat kolektif � merupakan bagian dari warisan atau peradaban manusia.

Dimulai dengan disertasi doktornya, Jung meneliti banyak aspek dalam diri dan kehidupan manusia. Penelitiannya ini merupakan refeleksi dari pandangannya bahwa semua gejala atau fenomena (ke)manusia(an) adalah hasil dari Psyche dan oleh karenanya menjadi tanggungjawab psikologi untuk mencari, menemukan dan menjelaskannya.


BAYANGAN (SHADOW)

Bayangan merupakan isi psikis yang tidak ingin ditampilkan atau bahkan dihargai oleh seseorang atau individu. Bayangan merupakan bagian dari hidup seseorang namun ia tidak diinginkan untuk muncul karena dianggap lemah, tidak dapat diterima secara social atau bahkan cenderung aneh. Manifestasi dari Bayangan kerap kali bisa jadi merupakan hal yang tidak mengenakkan. Misalnya seorang pembawa acara yang tiba-tiba bisa lupa akan nama dari tamu terhormat yang harus diperkenalkannya. Hal ini mungkin karena si pembawa acara sebenarnya tidak senang atau benci dengan tamu terhormat tersebut. Contoh lain yang sering kita alami adalah : di tengah tengah percakapan yang biasa dan bersahabat, orang bisa saja melontarkan komentar atau kata-kata kasar.

Bayangan akan muncul atau diekspresikan biasanya pada waktu orang berada dalam taraf kecemasan, di bawah pengaruh alcohol atau obat-obatan, atau dimana Kesadarannya tidak penuh atau menurun. Menurut Jung, dalam mimpi Bayangan sangat sering muncul sebagai figure yang tidak disukai oleh orang itu dan biasanya berjenis kelamin sama.

Sekalipun Bayangan yang secara natural bersifat tersembunyi, orang dapat juga mengangkatnya ke dalam alam Kesadaran dan menjadi bagian daripada nya. Pada dasarnya manusia akan selalu menekan Bayangan sampai ke tingkat dimana orang tidak menyadari (perilaku) nya dan oleh karenanya tidak akan dapat mengendalikannya. Dalam keadaan yang demikian, Bayangan bersifat mandiri (autonomous) dan bisa mewujud dalam bentuk moods, tersinggung, symptom fisik lainnya, emosi, dan juga perilaku. Contoh klasik dari sifat Bayangan yang mandiri ini adalah dalam diri Otto von Bismarck � pemimpin yang berhasil menyatukan Jerman di abad XIX. Dari luar Bismarck adalah figure militer (jendral) yang kuat, tegar, dan tegas. Namun ini semua (secara tidak disadari) dilakukannya untuk mengatasi kecemasan histeriknya. Kecemasan histerik itu merupakan manifestasi dari Bayangan dari Bismarck yaitu lemah dan pasif.

Sebagaimana Ego dan Persona, isi dari Bayangan adalah bervariasi antara orang satu dengan yang lainnya (bersifat individual). Dalam diri setiap orang, ada kualitas Bayangan yang tidak atau belum berkembang, tidak menarik, aneh atau bahkan kasar. Jika kualitas Bayangan yang sama itu muncul dalam bentuk yang sudah lebih berkembang, dewasa, menarik, sopan dalam diri orang lain, orang akan menjadi irihati tanpa tahu apa sebabnya. Jadi, tergantung dari kualitasnya: bagi satu orang bisa jadi merupakan Bayangan sedangkan hal yang sama bagi orang lain bisa merupakan Ego nya.

Sekalipun orang lebih sering melihat Bayangan dari sisi negatif, namun sebenarnya ia bisa banyak bermanfaat (positif). Kualitas atau isi Bayangan yang destruktif, aneh (pada saat berada di Bawah Sadar) bisa jadi merupakan hal yang sangat bernilai jika ia dapat diangkat ke dalam Kesadaran. Misalnya Bayangan tentang Marah bisa berubah menjadi Asertif, Ketidakberdayaan (vulnerable) bisa menjadi Empati. Jung menegaskan berulang kali bahwa Bayangan adalah merupakan unsure penting dalam hidup manusia. Bayangan dapat menunjukkan kualitas yang baik seperti misalnya instink normal, reaksi-reaksi (psikologis) yang tepat, realistic insight dan impuls-impuls kreatif.

Manifestasi Bayangan berakar pada satu dari dua pengalaman besar seseorang (1) melihat dirinya sendiri sebagai yang jelek atau tidak sempurna. Ini disebabkan mungkin karena terlalu sering atau berulang kali dicemooh oleh orang lain bahwa dirinya tidak berguna, hingga kemudian ia tidak dapat melihat apa yang baik dalam dirinya, atau (2) bangga atau merasa diharagai karena karakter negatif yang dimilikinya, misalnya orang yang suka atau haus akan kekuasaan.

Menurut Jung, disamping isi yang sifatnya individual Bayangan juga berisikan hal-hal yang sifatnya kolektif. Kisah atau sejarah Nazi Jeman adalah contohnya. Jung sempat bingung mengapa bangsa Jerman yang beradab dan religius dapat mendukung Naziisme. Jung kemudian menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki kaitan atau hubungan antara Bawah Sadar Kolektif (Collective Unconscious) dengan Bayangan Kolektif (Collective Shadow) nya. Dalam konteks bangsa Jerman, hal ini dipersonifikasikan melalui figure Wotan � dewa badai dan amarah. Kriminalitas atau garakan kejahatan massal � sebagaimana yang dilakukan oleh Nazi, menggambarkan isi Bawah Sadar Kolektif yang ada dan dimiliki oleh setiap orang Jerman.


SELF

Self tidak mudah untuk dijelaskan atau digambarkan. Kata yang singkat yang dapat menjelaskan Self adalah Kepribadian Total (total personality) baik Kesadaran maupun Bawah Sadar. Self adalah pusat dari kepribadian. Bandingkan saja Self dengan matahari dalam tata surya kita � sumber dari segala energi bagi keseluruhan system. Jika Ego adalah bumi, maka Self adalah matahari.

Sebagai totalitas Psyche, Self merupakan gabungan atau jumlah dari seluruh proses, isi dan karakteristik mental � baik itu positif maupun negatif, konstruktif maupun destruktif.  Isi dari Self ini yang kemudian akan menjadi bagian dari pola pengembangan (kepribadian) seseorang. Sebagaimana Kesadaran akan berhadapan dengan masalah-masalah dan tantangan hidup, Self akan menjadikan Bawah Sadar untuk bisa mendukung atau menyediakan sumberdaya bagi Kesadaran untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hidup.


BAWAH SADAR KOLEKTIF (Collective Unconscious)

Sekalipun gagasan tentang Bawah Sadar Kolektif merupakan pusat dan nafas dari karya Jung, namun sebenarnya ini bukan berasal dari Jung sendiri. Adalah merupakan rentetan karya dari rentang waktu yang cukup banyak oleh para filsuf, sastrawan, teolog dan psikolog. Bahkan Freud yang secara eksplisit menyangkal adanya Bawah Sadar Kolektif yang dikemukakan oleh Jung, sebenarnya juga menerimanya secara implicit. Freud menulis tentang Archaic Remmants � mitos yang diperankan kembali oleh setiap individu, misalnya mitos Oedipus (kebencian anak pria terhadap ayahnya untuk mendapatkan cinta ibunya) yang kemudian menjadi Oedipus Complex.

Jung memberikan sumbangan besar dengan mendefinisikan Bawah Sadar Kolektif berikut isinya yang kemudian dikenal sebagai Archetype. Konsep tentang Archetype dan Bawah Sadar Kolektif adalah saling berkaitan dan membentuk satu teori. Jung mengembangkan teori ini secara empiris karena ia ngotot bahwa dari pengalaman-pengalaman pribadinya ia menyimpulkan bahwa Bawah Sadar Kolektif itu ada. Ini dijelaskannya melalui Mimpi nya ketika ia dalam perjalanan bersama Freud ke Massachusetts, Amerika Serikat tahun 1909

Saya ada dalam sebuah rumah. Saya tidak tahu itu rumah siapa, tapi yang pasti ada dua lantai. Saya berada di tingkat atas, dimana ada ruang tamu dengan gaya Barok. Di dindingnya tergantung sejumlah lukisan tua yang mahal. Saya pikir ini pasti rumah saya dan �Lumayan� juga kelihatannya. Kemudian saya turun ke lantai bawah. Di sini semuanya tampak lebih tua, dan saya menyadari bahwa bagian dari rumah ini pastilah dari abad XV atau XVI. Perabotannya sangat bergaya abad pertengahan (medieval), lantainya dari batu bata merah. Suasananya tampak temaram, cenderung gelap. Saya masuk ke setiap ruang dan berfikir �Tampaknya sekarang saya harus meneliti seluruh rumah ini�. Saya jumpai pintu kamar yang berat dan kemudian saya masuk ke dalam. Di sana, ada tangga batu yang mengantarkan saya ke ruang bawah tanah. Saya kemudian turun ke sana dan saya jumpai ruang yang berantakan dengan gaya yang sangat kuno. Dindingnya terbuat dari batu dan ada sederetan yang terbuat dari batu bata. Ini pasti dari jaman kerajaan Romawi. Kemudian saya lihat ke lantainya, ia terbuat dari potongan-potongan batu dan di dalam salah satu potongan itu saya temukan sebuah cincin. Ketika saya menariknya, potongan batu itu kemudian terbuka. Dan lagi saya lihat ada tangga batu yang sempit menuju ke bagian yang lebih bawah dari rumah ini. Lalu saya menuruninya dan menjumpai sebuah gua kecil. Debu tebal terdapat di lantainya, dan di antara tebaran debu itu ada tulang belulang dan pecahan keramik seperti peninggalan orang atau jaman primitif. Saya juga menjumpai dua tengkorak manusia, sudah pasti sangat tua dan hampir tidak berbentuk lagi. Kemudian saya bangun (Memories, Dreams, and Reflections, hal. 158-159)[/color]

Jung kemudian menceriterakan mimpinya kepada Freud dan bersama-sama menganalisisnya. Selama tujuh minggu, setiap hari Freud dan Jung saling menganalisis mimpi-mimpi mereka. Ketika Jung berceritera pada Freud tentang mimpinya yang satu ini, Freud menyarankan Jung untuk mengingat kembali tentang harapan-harapan yang ditekannya sebagaimana digambarkan oleh dua tengkorak manusia itu. Tahu bahwa Freud berasumsi bahwa tengkorak mengindikasikan harapan akan kematian � mungkin kematian Freud, Jung kemudian mengatakan bahwa itu mungkin isteri dan adik iparnya. Jung melakukan ini karena disamping �violent resistance� nya terhadap interpretasi (yang dilontarkan oleh Freud), dia juga ragu-ragu terhadap penilaian nya sendiri dan ia sebenarnya ingin dengar langsung dari Freud apa pendapatnya tentang mimpi nya itu.

Pengalaman ini bagaimanapun juga kemudian menyebabkan Jung mulai menyadari ketidaksesuaian antara (gagasan) dirinya dengan Freud. Jung sama sekali tidak bisa mengartikan secara jelas mimpinya itu, tapi ia mengingatnya sebagai sebuah pengalaman yang mengantarkannya kepada adanya unsur kolektif  di samping Psyhce yang sifatnya individual. Lima puluh tahun kemudian, Jung mengelaborasikan pengalaman mimpi nya itu

Adalah jelas bagiku sekarang bahwa rumah itu menggambarkan Psyche saya pada tingkat Kesadaran. Kesadaran itu digambarkan sebagai ruang tamu yang memiliki suasana rumah yang berpenghuni, sekalipun disainnya antik.

Lantai bawah menggambarkan tingkat pertama dari Bawah Sadarku. Semakin ke bawah aku pergi, semakin asing dan gelap suasananya. Dalam gua saya jumpai peninggalan dari kultur atau peradaban primitif. Ini adalah dunia primitif yang ada dalam diri saya � dunia yang sangat jarang dapat disentuh atau diterangi oleh Kesadaran �

Mimpi itu menunjukkan bahwa ada hal lain di luar Kesadaran. Sebagaimana saya gambarkan : lantai bawah yang panjang dan tidak berpenghuni baik itu dengan gaya medieval, kerajaan Romawi sampai pada gua pra-sejarah. Ini menggambarkan masa lalu dan juga tahapan-tahapan sebelumnya dari Kesadaran �

Mimpi saya ini membentuk sebuah diagram structural dari Psyche manusia. Ia mengandung (peng) alam (an) impersonal yang mendasari Psyche itu � yang bagi saya merupakan jejak-jejak dari bagaimana (psyche) berfungsi � Kemudian, sejalan dengan bertambahnya pengalaman dan berdasarkan pada pengetahuan yang lebih reliable, saya mengenalinya sebagai �. Archetype (Memories, Dreams and Reflections hal 160-161)[/color]

Penerawangan Jung tentang Bawah Sadar Kolektif ini memerlukan beberapa tahun sampai kemudian pada 1912 muncul dalam karya Jung yang disebutnya sebagai �primordial image�. Jung kemudian menggunakan istilah ini untuk merujuk juga pada mitologisme, legenda, motif dsb yang menggambarkan mode universal bagi persepsi dan perilaku manusia. Puncak dari teori Jung tentang Bawah Sadar Kolektif muncul pada tahun 1919 pada waktu ia memperkenalkan istilah Archetype.

Tulisan selanjutnya akan membahas lebih lanjut tentang Isi dari Bawah Sadar Kolektif dan sekaligus akan menutup rangkaian tulisan tentang Jung dan Psikologi Analitiknya.

Tercatat
kstoffa
Pendatang
*

Karma: +0/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 18

« Jawab #4 pada: 14 Agustus 2009, 03:52:29 PM »

ini nih yang saya cari dari tadi
ketemu dah disini. semoga dengan artikel yang ada disini saya bisa menyelesaikan tugas :D
Tercatat
Halaman: [1] Cetak 
« sebelumnya berikutnya »
 

'SMF 2.0.5 | SMF © 2013, Simple Machines'
Dipersembahkan oleh Fakultas Psikologi UGM