Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
20 Juli 2018, 12:42:18 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Cari:     Pencarian lanjutan
Segera lengkapi Nama Tampilan Anda dengan identitas yang benar, bukan nama samaran.
* Home Bantuan Cari Masuk Registrasi
+  Forum Fakultas Psikologi UGM
|-+  Diskusi Psikologi
| |-+  Psikologi Sosial
| | |-+  Kasus ibu Siami
« sebelumnya berikutnya »
Halaman: [1] Cetak
Penulis Topik: Kasus ibu Siami  (Dibaca 6070 kali)
esteje
Anggota Yunior
**

Karma: +3/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 86


« pada: 15 Juni 2011, 11:29:37 AM »

Dear all,

Baru semalam saya sempat baca dan mengikuti tentang kasus Alif dan ibu Siami di Surabaya. Tidak perlu saya urai lebih panjang di sini karena saya yakin kalian yang berdomisili di tanah air pasti punya informasi lebih. Yang jadi pertanyaan saya : gejala apakah ini ? apakah benar bangsa dan masyarakat Indonesia telah menjadi abnormal ?  kleptomanic society ? mengapa hal ini bisa terjadi ? bagaimana terapi (psikologik) nya ? dan apakah bangsa Indonesia masih punya masa depan ?

Monggo ... :-[  :'(
Tercatat
Faturochman
Pendatang
*

Karma: +1/-0
Jenis kelamin: Pria
Tulisan: 38


« Jawab #1 pada: 17 Juni 2011, 08:38:38 AM »

Mas Esteje,

Saya hanya akan menjawab pertanyaan pertama saja, mungkin malah bukan jawaban tetapi sharing. Ini pun sebagian saja.

Isu tentang nyontek bareng sudah terdengar bbrp waktu lalu. Tujuannya satu: nilai NEM yang baik. Memang, di situ ada masalah etika dan moral. Namun, pelanggaran tersebut juga ada sisi lain yang 'bisa dimengerti'. Antara lain: (1) target nasional, daerah, dan sekolah bahwa sekian persen siswa harus lulus, nilai pelajaran ini dan itu harus sekian...dst; (2) Target tersebut hampir pasti tidak berdasar pada baseline atau profil kemampuan siswa yang sangat beragam menurut wilayah bahkan antar sekolah. Beberapa tahun yang lalu saya wawancara dg beberapa kepala sekolah di pelosok Kedu Selatan terkait dg upaya mengerjar target itu. Cukup banyak yg hanya bisa pasrah karena memang sulit mencapai. Pada waktu itu cara pasrahnya masih 'lumayan', yaitu dg berdoa bersama (ada yasinan tiap malam jumat, doa pagi di upacara tiap senin, dst). Saya kira cara lain yg adalah dengan: 'Paket target' dari pemerintah dibalas dengan 'paket usaha' dari guru, sekolah, dan bahkan wilayah. Caranya, seperti guru atau sekolah Alif itu.
Tercatat
neila
Moderator Global
Anggota Penuh
*****

Karma: +6/-2
Tulisan: 139

« Jawab #2 pada: 01 Juli 2011, 01:18:18 AM »

Mas Esteje,
Kalau bicara mengenai 'nyontek' demi terpenuhinya harapan sekolah, bahkan daerah ini memang agak miris. Sama dengan pak Fatur, saya sekedar sharing dulu setelah itu kita dapat sama-sama melihat kemudian menjawab pertanyaan Esteje.

Akhir-akhir ini, oleh karena tuntutan pihak berwenang setiap sekolah mengejar status 'terhormat' sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN),  Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), bahkan nanti ada juga Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Skema ini tidak secara menyeluruh dan serius didukung oleh upaya pihak yang berwenang untuk mempersiapkan hard maupun software. Pihak berwenang ini seakan beranggapan membentuk skema SSN, RSBI, maupun SBI ini hanya sekedar perlombaan dengan iming-iming dana pendukung kegiatan. Mereka tidak menyadari bahwa mengubah sebuah institusi yang bernama sekolah ini berarti mengubah pola pikir para pelaku proses pembelajaran, mulai dari kepala sekolah, guru, para staf administrasi, murid, bahkan orang tua. Hal ini sama halnya dengan mengubah budaya.

Tantangan atau lebih tepatnya tuntutan ini begitu membebani para pelaku pendidikan kita. Semua sekolah ingin didudukkan sebagai sekolah yang memenuhi salah satu predikat tersebut. Betapa tidak? Dana pendukung program yang diberikan juga tidak sedikit. Sangat menggiurkan dibandingkan menyelenggarakan proses pembelajaran hanya dengan dana rutin.

Tantangan lain adalah diberlakukannya UAN tanpa mempertimbangan perbedaan kualitas, fasilitas, dan kapabilitas dari sekolah yang ada di Indonesia. Dampaknya, perlombaan sekolah untuk mendapatkan predikat sebagai sekolah yang meluluskan murid-murid peserta UAN sebanyak 100%. Dengan predikat ini tentu saja diharapkan dapat membawa nama sekolah menjadi lebih punya popularitas sehingga lebih dilirik pendaftar atau calon murid. Sekolah berebut untuk mendapatkan pendaftar sebanyak mungkin sehingga mereka dapat melakukan seleksi terhadap pelamarnya. Hal ini tentu sangat wajar kalau dipikir, siapa orang tua yang bercita-cita menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah yang tidak mampu meluluskan muridnya?

Dua tantangan pendidikan tersebut di atas, hanya contoh saja. Masih banyak sekali termasuk proses rekrutmen, beban tugas yang kurang selaras dengan tuntutan mendapatkan sertifikasi, dan proses pengembangan SDM para tenaga pendidik.  Berbagai perubahan sistem tidak dirancang, disiapkan, dan diimplementasikan secara sungguh-sungguh. Dampaknya? Budaya potong kompas, instan, ingin cepat memetik hasil lebih subur bertumbuh kembang dibandingkan dengan kesungguhan dan ketulusan dalam melakukan proses transfer ilmu pengetahuan dan ketrampilan apalagi karakter.

Pada saat ada tuntutan meluluskan murid dengan nilai tinggi yang muncul adalah ide contek masal. Saya ingat sekali, suatu saat saya mendengarkan seorang guru senior memberikan pesan kepada murid-muridnya pada acara doa bersama menjelang ujian akhir begini "anak-anakku yang lebih pandai, pada waktu ujian nanti jangan lupakan teman-teman lain yang kurang pandai"...... Artinya anak yang bisa menjawab diminta atau diijinkan oleh gurunya untuk menconteki temannya...

Pada saat saya bertanya kepada guru mengenai alasan dia menasehati murid seperti itu, si gurupun dengan entengnya seakan dia tidak paham bahwa hal tesebut salah mengatakan " lha iya bu, kalau gak dipesani seperti itu nanti mereka gak mau kasih tahu temannya". Terbelalak mata saya mendengar jawaban lugu tapi ....

Pertanyaan mas esteje saya garis bawahi lagi, menyonteki pada saat ujian itu menurut sebagian guru-guru itu ternyata tidak sama dengan yang saya duga..           
Tercatat
Halaman: [1] Cetak 
« sebelumnya berikutnya »
 

'SMF 2.0.5 | SMF © 2013, Simple Machines'
Dipersembahkan oleh Fakultas Psikologi UGM